5 Mitos Mengenai Anak Usia Dini dan Screen Time

screen time pada anak usia dini

5 Mitos Mengenai Anak Usia Dini dan Screen Time

 

Dear IMC-ers, kali ini MomC ingin mengulas sedikit banyak mengenai mitos-mitos yang beredar seputar Screen Time dan penggunaannya pada anak usia dini ya!

Mitos 1 :

“Semua “screen time” merugikan dan berakibat buruk para anak usia dini.”

Seperti yang kita ketahui serta didukung oleh riset , anak usia dini memang lebih baik belajar dan mengenal hal-hal yang ada disekitarnya dengan merasakan dan mengalaminya sendiri (hands on learning through experiences seperti metode Montessori) yang momC suka sebut dengan #LearnThroughSenses . Tetapi bukan berarti si kecil tidak mendapat informasi edukatif sama sekali saat “screen time”.

Yang paling penting adalah beberapa poin berikut :

  • Apakah isi dari tayangan yang si kecil tonton sesuai dengan usia nya (mengandung unsur kekerasan dan unsur-unsur lain yang kurang sesuai untuk usia anak)?  (Age Appropriate)
  • Apakah anda membatasi waktu “screen time” ?
  • Apakah orang tua / pendidik di sekitarnya ikut berinteraksi dan membantu si kecil mengasosiasikan apa yang si kecil tonton saat screen time dengan apa yang ia alami di kehiduan sehari-hari?

 

Mitos 2:

“Anak-anak tidak terpengaruh dengan suara TV yang menyala di sekitar mereka.”

IMC-ers, meskipun hanya suara TV yang menyala dan si kecil tidak menonton, studi dan berbagai riset menyatakan bahwa si kecil ikut terpengaruh dengan suara TV tersebut. Meskipun suara itu hanya sebagai background saja, tetapi suara tersebut mengganggu konsentrasi si kecil saat bermain dan belajar. Hal ini berpengaruh negatif di kemudian hari dan berdampak pada perkembangan linguistik dan kognitif si kecil.

screen time pada anak usia dini

Mitos 3:

” Menonton TV sebelum tidur membantu si kecil cepat lelap tertidur.”

Justru sebaliknya IMC-ers, studi menyatakan bahwa menonton TV dalam 2 jam sebelum waktu tidur si kecil , justru membuat si kecil lebih sulit tidur!

Mitos 4:

“Penggunaan telepon genggam oleh orang tua tidak berdampak pada kelakuan si kecil.”

Studi terkini menyatakan bahwa ada hubungan korelasi antara banyak nya waktu yang digunakan oleh orang tua menggunakan telepon genggam dengan tantrum anak. Yang satu ini mungkin adalah challenge bagi kita semua ya IMC-ers, di jaman modern seperti sekarang tentunya hampir semua orang tua memiliki akses dengan telepon genggam. Ini juga menjadi tantangan bagi MomC untuk membagi waktu antara bermain dengan C dan menulis artikel serta maintain segala hal yang berhubungan dengan IMC. Saat ini MomC berusaha membatasi akses menggunakan handphone seminim mungkin saat kegiatan bermain dan homeschool dengan C. Memang kadang sulit karena MomC perlu cek e-mail dll, tapi akan selalu diusahakan untuk dibatasi. Kiat-kiat MomC adalah tidak chatting banyak-banyak during the day, hanya hal-hal yang penting saja dengan orang terdekat dan hanya mengecek / membalas e-mail yang penting apabila jam-jam C bermain , tidak mengecek / membalas komentar di sosial media during the day. Menulis artikel di saat C tidur siang atau pagi sebelum C bangun. Tapi hal ini terbukti sekali ya, kalau misalkan MomC sibuk dengan telepon genggam / laptop, MomC perhatikan C lebih cari-cari..ada aja deh dia cari perhatiannya MomC. Tapi kalau momC ngga pegang-pegang dekat C, ia lebih tenang. Well inti kata , memang tidak mudah ya! hehehe dan dengan demikian MomC juga harap maklum apabila semua komen ataupun e-mail lama dibalasnya ya…kadang-kadang MomC lihat sekilas aja tapi memang betul-betul belum sempat respons. MomC usahakan juga menulis sedetil mungkin supaya IMC-ers semua bisa baca di artikel.

Mitos 5 :

” Semakin interaktif permainan saat screen time, semakin baik untuk si kecil.”

Justru studi terkini membuktikan hal yang sebaliknya, semakin interaktif permainan saat screen time sebenarnya menggangu si kecil mengelola informasi yang ia seharusnya peroleh saat bermain.

Nah sebenarnya rekomendasi “screen time” itu berapa lama sih? kalau MomC dari waktu C bayi , dokter anak di sini (American Academy of Pediatrics) merekomendasikan “no screen time below 2 years old” alias ngga ada allowance screen time untuk bayi di bawah 2 tahun. Meskipun tidak ada batasan yang jelas untuk guideline penggunaan media selanjutnya untuk anak di atas usia 2 tahun, penggunaan media total dalam sehari dikatakan di bawah 90 menit. Itupun konten dan isi medianya harus jelas, sesuai usia, berkualitas.

Begini kira-kira ilustrasinya , duduk sendirian di depan TV menonton film kartun selama 30 menit itu sangat berbeda dengan duduk nonton 30 menit film edukasi yang sesuai usia dengan orang tua/pendidik di sebelahnya sambil mengajak bicara dan menjelaskan apa yang si kecil lihat di TV. Meskipun media dapat memberikan hal-hal positif untuk si kecil apabila digunakan secara tepat tentu hal tersebut tidak dapat menggantikan pengalaman multi sensori yang si kecil rasakan dengan dunia nyata dan kehidupan sehari-harinya.

The research is clear : children learn better and more efficiently from play and interaction in the “real” , three-dimensional (3D) world with parents, caregivers, and peers. The fact is, however that young children now grow up in a world of technology – screens are everywhere. Not only are the enticing, children see their parents and teachers using screens, so naturally they are drawn to them. While there is no research showing that when children younger than 2 years old use these devices independently it enhances their development, research also shows that when parents and other trusted adults make screen use an interactive, shared experience, it can become a tool for learning, and the potential negative effects can be reduced. 

Kiat-kiat MomC sendiri untuk meminimalkan “screen time” adalah dengan menyiapkan kegiatan-kegiatan untuk C melalui permainan sensori, undangan kegiatan montessori di rumah, keterampilan hidup, main di taman, ke perpustakaan, dan MomC juga menyiapkan segala macam puzzle serta permainan visual persepsi (puzzle book) yang C sangat sukai. Maksud MomC menyediakan semua ini adalah supaya C anteng duduk dan otak-atik dan untungnya it works well with C! kelihatan banget kalau ga ada kegiatan langsung bosen , tapi kalau selalu ada kegiatan dia selalu antusias dan ga cape-cape mainkan semua puzzlenya.

photo 4-128

Nah , sekarang kembali lagi dengan pendekatan Montessori, hal ini juga yang membuat MomC dan DadC suka dengan pendekatan ini, karena segala sesuatu dijelaskan dengan hal yang real , hands on dan bahkan pengenalan jumlah dll semua harus real dan hands on. Karena seperti yang riset katakan, anak di bawah usia 6 tahun belum dapat mengelola informasi yang bersifat abstrak. Maka dari itu banyak kegiatan Montessori di Rumah yang MomC tuliskan selalu menggunakan miniatur dll, maksudnya hal tersebut adalah perwakilan dari benda sesungguhnya yang mungkin ngga tersedia di sekitar kita dalam kehidupan sehari-hari 🙂

hands on learning

Salah satu kegiatan Montessori di Rumah untuk mengenalkan si kecil pada air, udara dan daratan…yuk pegang langsung 🙂

Selain itu, menumbuhkan kecintaan membaca buku juga dapat mengurangi waktu “screen time”. Saya sendiri ngga terlalu rigid atau membuat aturan-aturan khusus mengenai hal ini, kalau misal musim liburan dan lalu ada saudara datang dll, ga apa C sekali-kali nonton. Selain itu kalau sehari-hari C ingin lihat video yang saya rekam di Hp, juga saya berikan tetapi beberapa menit aja. Ada waktu-waktu juga C nonton video singkat edukasi saat MomC dan DadC sibuk sekali…nah tapi karena memang ga dibiasakan setiap hari ada “screen time” , jadi C sih so far ngga pernah nagih …cuma memang C ngga suka kalau lihat MomC atau DadC dekat-dekat laptop atau HP haha…so menurut MomC , segala sesuatu secukupnya dan setiap keluarga berhak menentukan batasan-batasan yang disepakati bersama. Whatever works for you and your family! that is your calling 🙂

Written By

Elvina Lim Kusumo is a Mother , Author “Montessori di Rumah” & “Real Mom Real Journey” , food scientist, Montessori Educator , and founder of IndonesiaMontessori.Com (IMC).

1 Comment

  • artikel nya bagus banget, sesuai ma pengalamanku mom,hehe. tp syg sy uda mengenalkan si kecil sejak baby, nah bru memasuki usia 2th ini baru lah sy bener2 menerapkan metode sensori. thx momC atas sharingnya… love it

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *