Pengenalan Panjang , Pendek, Paling Pendek – Montessori Inspired

spielgaben indonesia

Hallloo IMC readers yang rajin dan kreatif!! kali ini saya mau share kegiatan yang terinspirasi dari kegiatan red rods Montessori ya! nah terus terang kami tidak memiliki red rods Montessori apparatus di rumah, karena waktu saat ingin membeli sekitar 1 tahunan lalu bingung penyimpanannya. Red Rods Montessori Aparatus ini digunakan untuk mengenalkan konsep panjang , pendek, paling pendek, paling panjang secara real dan konkret untuk anak usia prasekolah. Kelihatannya konsep ini sangat sederhana ya apalagi untuk orang dewasa, namun untuk anak berusia 2-3 tahun lebih baik dikenalkan dengan cara yang konkret ya! prinsip Montessori selalu konkret first, lalu berangsur ke abstrak nantinya di usia 5-6 tahun. Nah beginilah kira-kira cara kami berbasis dan inspirasi dari metode Montessori mengenalkan dasar matematika untuk anak usia dini, no paper yet, no worksheet yet…let’s manipulate things around us C! kami belum menggunakan kertas, soal-soal dll untuk mengenalkan konsep dasar matematika untuk C, yang kami lakukan dalam pendekatan yang terinspirasi dari Montessori adalah menggunakan objek di sekitar untuk mengenal dan mengerti konsep dasar kuantitas, mengelompokkan dan membedakan, menyusun , grading, membandingkan dll. Semua hal ini adalah dasar untuk Calistung (begitu istilahnya..) di kemudian hari.

imageKami menggunakan berbagai ukuran stik kayu dari laci Spielgaben versi 4 kali ini dan C saya persilahkan untuk memilih Learning Resource Spielgaben mana yang ia inginkan. Jelassss…yang lagi suka sama kue ulang tahun dan lilin langsung aja memilih “Kue Ultah” hihi menggunakan stik kayu, C mencocokkan ukuran panjang dan pendek stik kayunya. Lalu saya tanyakan , C yang mana yang paling pendek? paling panjang? dll

spielgaben indonesiaC yuk untuk review, urutkan dari yang paling pendek ke paling panjang ya! di sini si kecil belajar mengasah kemampuan grading dan membandingkan yang menjadi salah satu dasar bekal untuk mengenal lebih jauh konsep-konsep matematika di kemudian hari.

imageYang satu ini juga dipilih sendiri oleh C , ia tampak tertarik dengan stik-stik kayu Spielgaben kami akhir-akhir ini, padahal waktu pertama kali sekitar 6 bulan lalu mulai eksplorasi dengan laci Spielgaben, C paling suka bangun geometrik nya dan juga bentuk-bentuk geometri untuk tangramnya. Memang kita yang perlu sabar ya sama anak, mereka berubah terus setiap hari..kalau dulu suka yang itu, sekarang suka yang ini…tabah-tabahlah dalam menawarkan dan menyiapkan “The Prepared Environment” ya mommies, supaya begitu periode sensitive nya muncul langsung kitanya udah siap sedia 🙂

imageYuk buat sarang laba-laba dari stik kayu C! yang satu ini kadang mudah bergeser, disini lah kadang C frustasi kalau kegeser-geser, tugas kita (I know NOT easy!) encourage C untuk menggeser sendiri dan memberi dukungan “Coba lagi C, coba terus…” dibandingkan langsung terjung payung come to the rescue bantuin. Jujur aja saya kadang suka terjun payung juga! haha tapi selalu ingatkan diri sendiri justru proses “frustasi” coba lagi dan lagi ini yang membangun karakter anak yang tidak mudah menyerah loh! (Self reminder!)

imageNah ternyata dari stik kayu bias dikreasikan seperti ini loh, Peacock! keren ya! suka nya dengan Spielgaben ini karena SO OPEN ENDED, istilahnya betul-betul bisa dikreasikan bebas dan butuh effort dari anak untuk kreasi…90% anak, 10% mainannya. Kami juga paling cintaaaa sama Learning Resourcenya yang Math Guide, betul-betul pencerahan sekali bahkan untuk saya, kalau Matematika itu konsep nya lebih mudah ditangkap kalau bisa di lihat, di pegang dan dimanipulasi ya!

“Children display a universal love of mathematics, which is
par excellence the science of precision, order, and intelligence.”
E.M. Standing: Maria Montessori: Her Life and Her Work p. 344

Children are aware of numbers and quantities at a very young age. Daily life provides many opportunities to make young children aware of such concepts, for instance, a mother says to her child “two buttons are missing from your jacket, or “our dog had three puppies.” When children enter the Montessori classroom for the first time they can already count a few numerals. They pick up on such information easily and are enthusiastic to grasp more. That is why Maria Montessori thought it was good to introduce mathematics at an earlier age than traditional schools’ did because she felt that children needed to see how easy math is.

The impulse to produce order out of disorder is called the “mathematical mind”. Dr. Montessori borrowed this phrase from the works of Blaise Pascal, a French philosopher and mathematician, who said “man’s mind was mathematical by nature and that knowledge and progress came from accurate observation.” (The Absorbent Mind (1988) page 169).

imageDan terakhir C tertarik untuk mencoba membuat pattern yang satu ini ,not so easy for 3 years old but with a little encouragement atau dukungan “ayo C bisa…dikit lagi C….you can do it!” dibandingkan semata-mata memuji hasil akhir seperti “Good Job~!” akhirnya berhasil juga….yang penting prosesnya ya C, tidak mudah menyerah dan selalu mencoba lagi.

Just like mommy and daddy , that is the spirit! We can do it C, we can do it IMC Mommies, We can do it INDONESIA!

 

Kegiatan kami kali ini menggunakan perkakas Spielgaben Versi 4 yang bisa anda dapatkan di Spielgaben Indonesia. Untuk kumpulan artikel dan ulasan kegiatan kami lainnya menggunakan apparatus Spielgaben ini bisa di lihat di sini.

Written By

Elvina Lim Kusumo is a Mother , Author "Montessori di Rumah" & "Real Mom Real Journey" , food scientist, Montessori Educator , and founder of IndonesiaMontessori.Com (IMC).

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *