Some Parts Are NOT For Sharing

buku proteksi anak terhadap kejahatan seksual

Some Parts Are NOT For Sharing

Yuk Bicara Tentang Anggota Tubuh!

Dear IMC-ers , salah satu buku yang MomC pilih dan bacakan selama kegiatan tantangan 1000 buku dari MomC sendiri (IndonesiaMontessori.com) berjudul “Some Parts Are NOT For Sharing”. Buku ini ditulis dengan sederhana dan mudah dimengerti oleh anak usia dini. Di buku ini diceritakan mengenai para ikan yang memiliki berbagai anggota tubuh. Ikan pun punya tangan, ikan juga memiliki bagian-bagian tubuh lainnya. MomC merasa sejak sedini mungkin anak harus diberikan penjelasan mengenai bagian-bagian tubuhnya secara jelas supaya tidak salah paham di kemudian hari.

buku proteksi anak terhadap kejahatan seksual

Di buku ini di katakan oleh Mama Ikan terhadap anak ikan bahwa kita memiliki banyak anggota tubuh, anggota tubuh tertentu bisa kita share dengan orang lain contohnya seperti tangan, kita bisa salaman saat bertemu orang lain atau memberi high five alias tosss gitu deh ya! tapi ada bagian – bagian tubuh lainnya, khususnya bagian tubuh yang ditutupi oleh pakaian renang , adalah bagian privasi kita dan tidak boleh di share dengan orang lain. MomC suka cara penulis menjelaskannya karena pesannya jelas tetapi tidak terkesan menakut-nakuti. Di buku ini juga dikatakan bahwa apabila ada “ikan lain” yang ingin melihat atau memegang bagian privasi ikan lainnya, segera katakan TIDAK! dan laporkan kepada mama ikan atau orang terdekat lainnya. Lalu ditekankan lagi di akhir bagian bahwa “ikan” memiliki berbagai anggota tubuh, anggota tubuh tertentu bisa di “share” dengan orang lain seperti tangan. Tapi ada bagian-bagian tubuh lainnya yang tidak boleh diperlihatkan atau di “share” dengan orang lain.

Nah momC sendiri pernah baca salah satu artikel mengenai hal ini , di situ dikatakan bahwa kita sebagai orang tua hendaknya menghormati si kecil. Katakan pada suatu hari si kecil pergi bertemu dengan teman-temannya ataupun dengan saudara. Nah kadang saudara-saudara atau teman maunya kan hugs dan kiss si kecil karena tentunya gemas yaaaa, nah apabila si kecil menunjukkan tanda-tanda tidak “comfortable” , tolong bapak/ ibu hentikan dan katakan “mungkin salaman saja? atau hi-5 saja”. Kita tidak perlu memaksa si kecil untuk memberikan pelukan atau kiss segala ke sana kemari bahkan terhadap saudara terdekatpun. Bahkan MomC tidak mau memaksa C untuk peluk dan cium kesana kemari termasuk dengan anggota keluarga dekatpun apabila C tidak merasa “comfortable”. Beda kalau C sendiri yang welcome dan merasa mau memeluk let’s say GrandmaC? nah itu tentunya momC biarkan. Bahkan kalau C sedang tidak mood dan tidak merasa mau atau perlu memeluk dan dicium oleh GrandmaC, MomC akan katakan…mungkin toss aja ya! tentunya saudara atau teman yang baik akan mengerti dan tidak tersinggung ya, mungkin bisa disarankan untuk memberi “Salam Spesial” seperti salaman beberapa kali lalu toss dsb.

Yang penting di ingat adalah tubuh anak anda adalah milik dirinya sendiri, kita perlu menghargai pilihan si kecil whether or not ia merasa comfortable peluk dan cium dengan orang tertentu atau tidak. Hal ini mengajarkan si kecil dan memberikan rasa “empowerement” bahwa TIDAK selalu anda berteman atau berdekatan dengan orang lain anda perlu lantas peluk dan cium sana sini. Karena apabila si kecil dalam hatinya tidak merasa “comfortable”, Because You may teach them a wrong lesson dan mereka akan berpikir untuk menerima-nerima saja perlakuan orang lain meskipun dirinya tidak merasa “comfortable”. Pesan yang ingin kita sampikan pada si kecil bahwa dirinya adalah sesuatu berharga dan si kecil memiliki otoritas penuh whether or not ia ingin dicium / disentuh atau tidak oleh orang tertentu.Dengan demikian begitu si kecil menjadi remaja, ia memiliki “self respect” dan “self empowerement” untuk say NO kepada hal-hal yang ia tidak inginkan, dan tidak ketakutan dan pasrah saja. So , Do NOT Force Affection!

“The boundary we’re teaching our child is to listen to his own ‘gut feeling.’ He tells us whenever he feels uncomfortable around someone (usually whispering so he doesn’t hurt feelings). He never has to touch or be touched if he feels uncomfortable — family or otherwise. I will never force him to kiss anyone — even if a great aunt is visiting who may get her feelings hurt. Hugs and kisses are his to give and are not compulsory.”

Sedikit sharing dari MomC yang besar di Indonesia lalu sekolah ke Amerika. MomC personally bukan orang yang terlalu suka menebar-nebar pelukan dan ciuman ke sana kemari. MomC memang secara personaliti terbuka , suka bergaul dan extrovert, tapi MomC merasa ada cara lain untuk menyampaikan kita senang bertemu dengan orang tertentu dll. MomC hanya akan memberikan pelukan atau ciuman apabila MomC merasa dekat dan perlu dengan orang tersebut. Apakah ini merusak hubungan MomC dengan teman-teman MomC? hmmm ngga sama sekali tuh, mereka melihat MomC memang memilih demikian dan menghormati pilihan saya. Dengan demikian MomC sangat respek terhadap diri MomC sendiri. Sebagai remaja saya selalu dapat menolak hal-hal yang menurut saya tidak sesuai dengan value keluarga yang diajarkan GrandmaC dan ajaran agama yang saya percayai.

Yuk ajari si kecil tentang bagian tubuh sedini mungkin dan ajari juga untuk memperlakukan tubuhnya sebagai hal yang berharga dan berikan pesan bahwa ia memiliki otoritas penuh atas tubuhnya! 🙂

Written By

Elvina Lim Kusumo is a Mother , Author "Montessori di Rumah" & "Real Mom Real Journey" , food scientist, Montessori Educator , and founder of IndonesiaMontessori.Com (IMC).

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *