Usia Mental VS Usia Kronologis Anak

iq anak usia dini usia mental

Seseruan kemarin siang setelah C kembali dari sekolah… jam 11 siang biasanya C sudah pulang lagi hehe.. dan yang biasanya C lakukan selalu langsung main sepeda / scooter dll pokoknya main di luar gitu… setelah itu kami biasanya “piknik” berdua pokoknya di luar gitu deh (mengingat masa-masa kami sering lunch picnic di farm dll waktu masih di US). Hehehee jadi kita lunch berdua , outdoor, bawa berbagai macam makanan dan snack dan kadang kertas dan crayons juga. Kalau saya sendiri pasti bawa buku , duh list buku yang ngantri untuk dibaca masih berpuluh-puluh 😂 sedangkan C2 dah mau lahir 7-8 weeks from now , ya sudah lah ya…. sebisanya aja.. kalau bisa dibilang saya ini sedang di persimpangan (khususnya untuk C1, 5 tahun) karena ia akan memasuki fase yang lain dan juga membutuhkan perhatian super khusus dari saya hehe… sedangkan untuk C2, berhubung jaraknya sudah cukup jauh… saya kadang lupa-lupa ingat.

 

Mulai lagi baca dari awal tentang what to expect for newborn, dll. So little time so many things to catch up …. but my husband reminded me again, days are long but years are short! Benerrrr banget kan? tiba-tiba aja C sudah usia 5 tahun… berarti 10-13 tahun lagi udah usia kuliah ya😱 dan saya yakin itu ga lama banget…. jadilah saya dan hubby sekarang sedang “serius” memikirkan the next phase for C1, 5 tahun ke depan mau apa? apa yang C1 suka dan apa yang menjadi innate ability C1 yang bisa ia pursue? Setelah bejibun belajar dan baca tentang hal ini , ada baiknya memang talent setiap anak itu diketahui dan di identifikasi sebelum usia 7 tahun ya Moms! caranya gimana? menurut saya kandidat terbaik yang dapat menilai ini adalah kita sebagai orang tua dengan interaksi tersering dengan anak, baru selanjutnya third party untuk memastikan dan counsel. But at the end of the day, tanggung jawabnya besar di orang tua ya ! haha… semoga aja bisa selalu “Follow the child, observing the child” supaya bisa memfasilitasi yang ia butuhkan.

tips play date untuk anak usia dini tk balita

Ketika C1 berusia dibawah 3 tahun itu rasanya mengalir aja gitu homeschool, karena mungkin tahap early stage itu pengenalan terhadap lingkungan sekitar, bonding time with primary caretakers, melatih gross motorik (bermain di luar sepuas2 ya), bermain sensori, dll. C1 juga ga ikut enrichment /tidak les apa-apa di masa-masa itu, semua hal dia dapatkan dari rumah dan just being around the parents… rasanya secara otomatis sudah pick up sendiri berbagai aspek. Baru pada tahun lalu ketika C berusia 4 ke 5 tahun, C ikutan taekwondo dan saat ini baru memasuki yellow belt. Mengapa saya dan suami akhirnya memutuskan enroll C ke kegiatan ini? sebetulnya sih untuk menambah kegiatan fisik C1 saja yang memang sangat aktif…lalu selanjutnya musik. Untuk musik saya baru memasukkan C1 ke Piano , namun exposure terhadap musik sudah dari bayi ya, exposure bisa berupa menyalakan musik di rumah, mengenalkan anak pada alat musik sederhana, hand bell, dll. Menurut saya usia yang pas untuk mulai ikut course (Kalau untuk anak kebanyakan seperti C1) mungkin di usia 4-5 tahun. Saya rasanya ga rekomen terlalu kecil juga karena mereka perlu dapat sight reading not balok dan juga posisi jari-jarinya harus benar. Saya sendiri sempat belajar piano 10++ tahun tapi bisa dikatakan kategori biasa saja, bukan bakat saya rasanya yang satu ini hahaha. Tapi saya rasakan ada manfaatnya untuk menyeimbangkan kedua belah hemisphere otak saya (otak kanan dan otak kiri).Sampai saat ini saya menikmati musik dan harus ada musik di rumah, namun ga jago main hehe…

otak kanan dan otak kiri

 

Selanjutnya yang saya amati dari C1 adalah fase transisi konkret ke abstrak. Menurut riset fase ini biasanya di mulai usia 6-9 tahun di mana anak mulai dapat memanipulasi hal abstrak hanya di dalam pikirannya. Saya betul-betul percaya bahwa segala sesuatu perlu dikenalkan konkret dulu terutama untuk anak usia dini. Tapi ternyata untuk usia C1 yang sudah 5 tahun ini, nampaknya dia sudah menyukai yang abstrak… saya sempat bingung apakah saya perlu “slow him down” atau bagaimana? dan di sini saya mendapat pencerahan dari doktor yang saya temui. Disitulah saya menyadari bahwa ada perbedaan antara Usia Mental dan Usia Kronologis setiap anak.

usia mental dan usia kronologis

Secara sedehana, usia kronologis adalah usia yang dihitung dari semenjak kita lahir. Biasanya kalau di tanya “How old are you?” kan kita otomatis langsung jawab “Oh saya 21 tahun..” hahaahha kira-kira seperti itu. Namun usia mental berbeda dengan usia kronologis, karena tidak bergantung pada tahun di mana kita lahir. Usia mental seseorang biasanya sulit ditebak, karena kalau usia kronologis kan terlihat ya “Oh kayanya C1 usia 5 tahun deh… dari tinggi badannya, dll.”

Namun usia mental sulit ditebak dan hanya dapat diketahui melalui wawancara dan assesment oleh ahli di bidang tersebut. Usia mental lebih ke how you process knowledge, understand through thought and how well you remember. Sebelumnya saya tidak pernah berpikir bahwa penting untuk mengetahui usia mental anak kita, namun setelah melewati beberapa bulan terakhir ini saya sebetulnya bersyukur karena apa jadinya kalau kita sendiri tidak memahami usia mental anak kita? Kita akan lebih sulit memfasilitasi aspek-aspek yang menjadi innate ability si anak juga kan? masa nebak-nebak? atau mencoba mengikuti anak ke semua kegiatan… terus terang saya kasihan kalau untuk anak usia dini tapi terlalu banyak kegiatan hehehehehe…

Hal terpenting yang saya pelajari dan tarik kesimpulan dari semedi saya 2 bulan terakhir : Kenalilah anak anda inside out, strength and weakness, innate abilitynya di bidang apa? dan usia mentalnya.

Kita sendirilah yang perlu berusaha mengenal anak kita, terkadang milestone dan perkembangan setiap anak berbeda-beda dan acuan itu sebagai benchmark saja. Nah, kalau sudah mengerti bedanya kan kita tidak lagi “membandingkan” tumbuh kembang setiap anak karena memang berbeda-beda timingnya ya.

Sebagai contoh : seorang anak berusia 5 tahun (kronologis) bisa memiliki usia mental 9 tahun (untuk kemampuan kognitif) namun secara sosio emosional, anak tersebut tetap 5 tahun. Nah kebayang dong dengan perbedaan sebanyak itu tentunya sebagai orang tua perlu memperhatikan dan mengerti kenapa anak kita mengatakan dan berpikir hal tersebut dll?

Sebagai contoh berikutnya, seorang anak berusia 7 tahun (kronologis) bisa saja memiliki usia mental 5 tahun di bagian tertentu, namun usia mental 8 tahun di hal lainnya.

Discrepancies / perbedaan gap antara usia mental dan usia kronologis inilah yang perlu kita amati dan perhatikan sebagai orang tua dan edukator, mengapa? karena di sekolahan biasanya dikelompokkan berdasarkan usia kronologis ya. Katakan semua anak usia 6 dikelompokkan dengan semua anak berusia 6 tahun lainnya. Sedangkan seperti kita ketahui ada anak-anak yang memiliki usia mental berbeda dari usia kronologisnya, dan di sinilah menurut saya peran orang tua (dan guru juga) untuk mengamati. Kalau memang tidak ada solusinya, mungkin lebih baik alternative education ya.

Saya sempat kaget ketika saya counsel dengan doktor di sini bahwa sebetulnya saya harus memberikan anak saya itu stimulasi dan juga kesempatan yang sesuai dengan usia mental BUKAN usia kronologis si anak. Saya sempat kaget karena saya merasa C1 kan baru 5 tahun, part of me mungkin self denial dan merasa “he will always be my baby.” Mellow gitu loh, tapi saya segera sadar, ternyata hal tersebut tidak mendukung C , hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah mencoba mengenal anak kita (kalau bisa dibawah 7-8 tahun) sehingga bisa membantu memberikan fasilitas dan prioritas kemana arah selanjutnya, kalau yang lainnya bersifat exposure aja… ada yang memiliki pengalaman sama dengan saya? share di bawah yaaa #parentingwithIMC

Written By

Elvina Lim Kusumo is a Mother , Author "Montessori di Rumah" & "Real Mom Real Journey" , food scientist, Montessori Educator , and founder of IndonesiaMontessori.Com (IMC).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *