Tantrum Pada Anak Usia Dini

Dear IMC-ers, “tantrum” atau luapan emosi si kecil menjadi salah satu topik yang hangat di kalangan kita sebagai orang tua yang memiliki anak balita. Sama hal nya dengan IMC-ers, MomC dan DadC tentunya juga mengalami challenge yang sama hehehe….yang dulunya C itu bisa dikategorikan sebagai anak yang calm dan sabar, tiba-tiba saja beranjak C ke usia 2.5 tahun ini C mulai suka mengatakan “NO” dan mulai mencoba-coba melakukan hal-hal yang ia sudah tahu sebenarnya tidak dikehendaki. Selain itu C yang dulunya baik-baik saja kalau mainannya di rebut anak lain, C ngga bales, C ngga mukul, C ngga ngapa-ngapain basically...sekarang C ngga mau kasih mainan yang sedang ia mainkan. Yang ada C malah semakin menarik mainannya, dan biasanya C diam aja sambil narik keras sekali, sampai anak satunya yang melepas akhirnya….selain itu C juga kadang-kadang mulai jalan-jalan sendiri menjauh dari MomC saat di tempat umum , dan saat MomC katakan mau ke toko A, C maunya ke toko B…hahaha begitulah ternyata raising toddler!!! Nah untungnya jauh sebelum C berusia 2 tahun , MomC udah dengar dari teman-teman yang mempunyai anak lebih besar dan juga dulu MomC sempat sekolah parenting saat C masih usia 1.5 tahun , di situ guru Parenting MomC sudah mengingatkan tentang “Terrible TWOs” (Ini istilah disini…) Ya dalam hati MomC sih nga mau sebut kata “terrible” ya…jadi “challenging TWOs” hahaha….

tantrum temper kemarahan anak balita pendidikan karakter anak

Nah menurut guru Parentingnya MomC , ย Miss Debbie yang sangat baik hati dan udah berpengalaman sekali….tantrum itu sangat amat wajar dan merupakan tahapan normal pada setiap anak. Ada anak yang mengalami fase tantrum di usia 2 tahun…ada juga yang tidak terlalu tantrum di usia 2 tahun lalu muncul di usia 3 tahun. Menurut Miss Debbie, nanti di usia menjelang 4-5 tahun , tantrum ini dengan sendirinya akan berkurang. Nah salah satu penyebab terjadinya tantrum ini sebenarnya adalah karena adanya perubahan mood si kecil yang disebabkan terkadang ia masih ingin nempel dan dekat-dekat dengan orang tua / pengasuh namun di sisi lain, ia juga ingin mulai membuktikan eksistensinya dan kemandiriannya. Ia ingin menunjukkan ke sekitarnya bahwa “Aku Bisa!” “Aku Individu yang berbeda dengan lainnya” . Nah senangnya MomC lagi dengan pendekatan Montessori, dimana si kecil dibiarkan mandiri, dibolehkan mengakses segala penjuru rumah (tentu setelah diamankan), hal ini dapat mengurangi tantrum si kecil. Ngga menghilangkan 100% , tapi mengurangi ๐Ÿ™‚ bayangkan kalau anda adalah si kecil, anda merasa tubuh anda sudah cukup tinggi tetapi not quite yet, Kok ngga nyampe sih mau ambil kue di meja dapur ๐Ÿ™ tentu anda kesal dalam hati…tetapi anda karena masih terbatas kemampuan lingustik anda, malahan berubah menjadi kesal dan emosi serta ngamuk dan marah-marah. Nah untuk mengatasi masalah tersebut, salah satu solusi di rumah C dengan menyedikan Kitchen Helper, di mana C bebas berkeliaran mengambil barang-barang di mana-mana menggunakan alat tersebut. Cek di sini kitchen helper yang MomC maksud dan juga bisa DIY di buat sendiri di rumah, yuk minta Ayah, Paman, Kakek bantu buat yang aman ya. Cek juga artikel cara mengamankan rumah anda supaya si kecil bebas bermain di sini.

mengatasi tantrum anak 2 tahun

“Uhh Ohh,, these balls are ALL MINE!”

haha kira-kira begitu kata si cantik berkuncir dua ini, semua bola ini milikku, OKAY? bukan milikmu! these are all MINE MINE MINE!! NO NO NOT FOR YOU!ย 

Familiar dengan kata-kata ini? Yes karena pada fase ini pun si kecil belum paham konsep “Sharing” atau berbagi, jadi tentunya ia merasa segala sesuatu yang ia lihat, ia sentuh dimanapun dia berada adalah miliknya. Wajar kan kalau si kecil jadi kesal dan jerit-jerit kalau di paksa memberikan mainannya ke anak lain? momC memilih kata “Take Turns” alias bergantian. Karena “Sharing” masih cukup sulit di pahami oleh anak usia dini.

mengatasi penyebab tantrum anak usia dini

Banyak hal yang sebenarnya si kecil lalui di usia 2-3 tahun , ia berkembang pesat secara fisik dan juga kemapuan motorik halus, motorik kasar, intelektual, sosial dan emosionalnya berkembang pesat. Kemampuan berbahasapun berkembang pesat dan banyak hal yang sudah dapat mereka lakukan sendiri. Tetapi ada kalanya ia menyadari bahwa ternyata ada rambu-rambu dan peraturan di kehidupan di sekelilingnya ia perlu ia ikuti , selain itu terkadang si kecil belum dapat melakukan hal tertentu sendiri sehingga merasa frustrasi dan menjadi kesal dan marah-marah. Nah salah satu contoh dari pendekatan montessori yaitu menekankan untuk memahami keterampilan kehidupan dulu (practical life) pada usia dini menurut MomC dapat mengurangi perasaan frustrasi pada anak. Bayangkan kalau sebenarnya si kecil ingin sekali memakai kaos kaki sendiri, tetapi ia belum bisa? ia mencoba terus dan terus dan belum berhasil? tentunya ia merasa kesal dan kalau tidak disikapi secara betul ,si kecil malahan menyerah dan ngga mau coba lagi nantinya. Salah satu hal yang kadang membuat C kesal adalah kegiatan memasang kancing sendiri. Kalau buka tutup dan memasang yang lainnya seperti snap, zipper, seat belt, shoes ia sudah bisa…tetapi yang satu ini yaitu kancing agak challenging untuk C. 80% iya berhasil, tetapi ada kalanya 20% meleset….nahhhhh kalau udah begitu C tampak geram dan kesal sekali ia pun mulai memanggil-manggil Mom / DadC untuk membantu dia. Di saat itu peran kami sebagai orang tua diperlukan, saya berusaha membantu/ memudahkan posisi kancing atau lubangnya tetapi hasil akhir tetap saya biarkan C yang lakukan , karena kalau ngga C akan terus penasaran dan ngga mau nyerah. Selalu kami katakan ” We are proud of you that you were trying! “ (Kami bangga padamu C karena kamu telah mencoba). MomC lebih memilih mengatakan hal-hal yang sesuai fakta yang C memang coba lakukan dibandingkan hanya mengatakan “GOOD JOB C! “. MomC ingin memberikan pesan ke C bahwa yang penting itu “Usahanya” bukan hasil akhirnya. Bukan karena C berhasil lalu MomC jadi bangga, tapi justru karena C mencoba lagi dan lagiii dan lagiiiii sampai kesalll dan akhirnya berhasil, disitu MomC bangga karena artinya C tidak mudah menyerah.

Cek selengkapnya contoh kegiatan keterampilan hidup pendekatan Montessori di sini.

Selain itu banyak juga penyebab yang mungkin memicu terjadinya tantrum , seperti mungkin keadaan rumah tidak mendukung , si kecil mudah frustrasi saat ingin mengeksplorasi, si kecil lapar,si kecil bosan?ย si kecil tidak enak badan, si kecil lelah, si kecil ngantuk? ada anak lain yang membuat ia kesal, kehadiran adik bayi di rumah, dll. Hal-hal seperti ini yang perlu kita kenali sebagai orang tua, memang tidak mudah sekali lagi MomC mengakui, bahwa menjadi orang tua ini jauuuuhhh lebih susah daripada semua ujian ujian selama momC sekolah dan kuliah! Salah satu trik mengalihkan tantrum adalah dengan mengalihkan perhatian si kecil, trik jitu momC yaitu Flubby jelly dan kawan-kawannya..hampir ga pernah di tolak oleh C, dari yang tadinya nangis sesenggukan begitu dengar Sensory play…langsung matanya berbinar-binary…cek resep DIY nya di bagian DIY Toys ya IMC-ers!

Selain itu, menurut guru Parenting MomC, apabila tantrum tersebut terjadi di tempat umum katakan, apa reaksi kita? menurutnya dan momC juga setuju sekali bahwa apabila itu terjadi di tempat umum, Stay Calm, cuekin aja orang di sekitar kita ngga usah mikir ga enak sama di sekitar , toh mereka “harusnya” mengerti bahwa si kecil ini sedang “tantrum”, jadi ga perlu malu dan jaim sama sekitar terus mencoba mendidik atau mengomeli anak di tempat dll. Coba berikan “comfort” atau tawaran yang memberi si kecil rasa nyaman (Mau makan? mau minum? mau ganti diaper? mau liat balon?) dan coba sebisa mungkin agak cuek dengan kejadian tersebut …nah tetapi kalau ternyata tidak berhasil, cara yang paling ampuh bawa si kecil keluar dari lokasi kejadian …semoga dengan berubah lokasi si kecil berubah mood dan lebih tenang. Suatu hari saat momC sedang playdate dengan beberapa anak lainnya , menjelang jam tidur siang ada satu teman C yang tiba-tiba tantrum..padahal biasanya ia selalu tenang-tenang saja…nah MomC perhatikan reaksi teman momC ini , ia bawa anaknya keluar rumah (dari rumah teman MomC) dan ia ajak anakya berbicara di luar “bla bla bla bla bla” . Setelah selesai seperti seakan tidak terjadi apa-apa ia masuk lagi dan anaknya bermain biasa lagi dengan C dan anak-anak lainnya. Kalau MomC suka mengalami tantrum ini kalau C udah capek dan menjelang jam tidur tapi masih pergi-pergi, dan biasanya MomC langsung pamit dan bawa C pulang …nah biasa ga sampai 5 menit C ketiduran di mobil deh , dan pas bangun C udah ceria kembali ๐Ÿ™‚

Selain itu saran dari guru parenting momC bahwa cara yang paling efektif dengan mengajak anak berdua duduk dan menjelaskan mengapa hal yang ia lakukan (katakan melempar barang) tidak dapat diterima dan tidak baik. Kalau kita diam saja , si kecil mengira itu wajar ia lakukan. Sampaikan ekspektasi anda mengenai batasan-batasan yang bisa ditolerir dan tidak dapat diterima seperti kamu boleh lompat-lompat tetapi di luar bukan di atas sofa…jadi si kecil jelas dan mengerti lama kelamaan bahwa ternyata ada batasan-batasan yang diterima dan tidak dapat diterima oleh sekitarnya. Selain itu kita sebagai orang tua dapat membantu si kecil dengan memberikan preview terhadap kegiatan-kegiatan yang akan kita lakukan keesokan hari dsb, dengan demikian si kecil secara mental lebih siap menghadapinya dan juga penting untuk memiliki jadwal yang cukup terencana karena anak usia dini menyukai ketepatan yang bisa ia prediksi. Ia akan bingung kalau suatu hari anda membiarkan ia tidur sampai siang tetapi keesokan hari anda bangunkan si kecil pagi-pagi , jadi konsistensi juga diperlukan untuk membantu si kecil menghadapi hari-harinya.

Last but not least, Show them we Love them unconditionally, bahwa ngga masalah kalau si kecil berbuat kesalahan all, jangan kawatir karena Mom dan Dad akan selalu menyayangimu seperti dirimu apa adanya. Selain itu pastikan si kecil merasa dicintai sungguh-sungguh dan bukan karena ia berkelakuan baik saja sehingga ia akan meras “oh kalau aku nakal, orang tuaku tidak sayang aku lagi “. Sebetulnya anak yang lagi “nakal” itulah yang paling membutuhkan perhatian dan kasih sayang orang tua yang tulus.

Love, MomC

Special thanks to my own dearest wonderful Mom & Dad who raised me , accepted me and love me unconditionally through ups and downs in my life ๐Ÿ™‚ I pray that God always shower you both with Joy and Blessings all your life!
Comments (2)
  1. Dear momC..anak ke-2 saya umurnya 14bulan & sekarang menunjulan ciri-ciri seperti diatas..apakah anak dgn umur segitu dikategorilan tatrum? Makasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *