GIFT and GRIT

“God honors a beautiful blend of gift and grit! He gives the gift, and He expects us to have the grit to practice and learn how to use it effectively.” Beth Moore

Suka banget sama quotes di atas dan beberapa minggu terakhir saya refleksi tentang pernyataan tersebut. GIFT and GRIT…. haha sama-sama mulai G dan diakhiri dengan T ya! selama menjadi ibu saya mengalami banyak sekali ups and downs dan juga kadang saya suka berpikir kembali, refleksi apa yang telah dilakukan dan ingin diterapkan dan juga sebetulnya hal-hal ini membuat saya mengingat masa-masa kecil saya sendiri. Apa sih yang dulu saya lakukan? kalau bisa diubah kira-kira apa yang ingin saya ubah dari pengalaman dan keputusan yang saya buat? apabila saya dapat mengulang kira-kira bagian mana yang ingin saya ulang? dan apa yang saya harap sebetulnya saya tahu lebih early…

Saya merasa waktu saya grew up saya ini termasuk anak yang suka berpikir tapi juga agak childish hahaa terutama kalau dibandingkan dengan adik saya yang di mata saya much more mature dibandingkan usianya…hahaha yang ada saya jadi suka iseng sama dia. Semakin besar (khususnya setelah lulus kuliah dan menikah) masih banyak hal , perspektif dan juga nilai-nilai dalam hidup saya yang terus berkembang. Intinya saya mau tetap berubah ke arah yang lebih baik karena hidup itu memang akan bertahan kalau kita terus menerus beradaptasi dan percaya bahwa berubah ke arah yang lebih baik it esensial. Of coure ..of coursee hahahaah saya banyak gagal nya, tapi gapapa deh ya lebih baik gagal di sana sini daripada sama sekali tidak ada progress ya?

Nah, ketika menjadi orang tua ….pernah ga sih berpikir ”susah banget ya role ini!!!! benar-benar susah…!!” feels like giving up? saya rasa most of us pernah…sebagai manusia normal hahahaa saya yakin pernah…ada masa-masa sulit…dimana saya harus just swallow it up dan move on! nah sekarang ketika saya menjadi ibu terhadap anak-anak saya, saya mengamati….bahwa sebetulnya salah satu GIFT yang paling berharga dalam diri seseorang adalah GRIT. Tapi pertanyaannya , bagaimana mengasah GRIT? apakah itu innate alias sudah ada dari lahir? yang jelas saya bukan ahli di bidang ini dan saya hanya merasa actually hal ini sangatlah penting dalam kelangsungan hidup umat manusia ahuhauhaua….dan dalam segala hal. Dalam hidup suami istri, dalam hidup di lingkungan pekerjaan, dalam parenting, dalam mendidik anak, dll. Kalau di mata saya pokoknya bikin salah ya udah move on, sadar? ya udah bangkit lagi…boleh down boleh of course…tapi kalau bisa jangan terlalu lama. LIFE GOES ON! saya juga suka down kok, tapi ya saya bersyukur saya memiliki adik, orang tua dan sahabat-sahabat yang suka encourage saya.

Gimana ya membangun GRIT dalam diri anak? dari pengamatan saya beberapa tahun ini saya coba menyimpulkan (not done but lebih baik saya catat di sini biar nanti ingat).

  1. Memberikan kesempatan anak eksplorasi . Percaya bahwa anak kecil itu memiliki ability untuk memperkirakan apakah mereka dapat memanjat kursi? apakah mereka dapat mengambil buku berat di shelves? berikan kesempatan untuk anak banyak mencoba dan membuat kesalahan.

2. Berikan challenge alias tantangan yang sesuai untuk si kecil. Hal ini saya rasa sejalan dengan pandangan Montessori yakni ”follow the child”. Follow the child disini selain mengamati ketertarikan anak namun juga mengikuti sejauh mana anak menguasai suatu hal. Ketika anak dapat melakukan suatu aktivitas dengan baik dan setelah repetisi yang cukup… berikan kesempatan anak untuk move on to the next level. Dengan tantangan-tantangan yang ia hadapi tentunya akan memberikan kesempatan anak untuk ”gagal” dan berusaha sedikit lagi.

3. Untuk anak yang lebih besar saya merasa olah raga yang ditekuni juga dapat membentuk GRIT. Mungkin judulnya bukan semua anak perlu jadi atlet (kalau memang mau dan bidangnya tentu sangat baik ya!!) namun ketika mereka berolah raga, mereka menaklukan hal-hal yang tadinya mereka belum kuasai, perlahan dengan latihan akhirnya mereka menjadi semakin baik.

4. Membiarkan anak berusaha di bidang yang kurang ia gemari. Memang baiknya kita mengikuti bidang-bidang yang si kecil sukai, minati dan good at it. Tapi di area lainnya yang biasa saja atau mungkin kurang ia gemari, ada baiknya juga untuk anak berlatih bahwa they don’t always get it right!

5. Memberikan kebebasan membuat keputusan dan juga mengajak anak untuk set the goals, write the schedule bersama-sama. Saya merasakan sejauh ini semua yang C1 inginkan sendiri akan lebih mudah dicapai. Saya lebih suka mengembalikan segala sesuatunya ke C1. Pada saat ia down mungkin yang perlu saya lakukan hanyalah encourage more dan berusaha membuat ia melihat bigger picturenya dan hubunganya satu dengan yang lain. Saya yakin semakin C1 besar ia akan dapat extapolate segala sesuatu yang ia tekuni, pelajari dengan passion-nya.

Yeaaaayyyy senang banget akhirnya sempat curhat 15 menit ini, ketika hujan dan C2 tidur pulas hehehee…kalau ada tips lainnya, tulis di komen yah!!

Tags from the story
Written By

Elvina Lim Kusumo is a Mother , Author "Montessori di Rumah" & "Real Mom Real Journey" , food scientist, Montessori Educator , and founder of IndonesiaMontessori.Com (IMC).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *